Persaingan kecerdasan buatan global memasuki babak yang lebih panas. Dua raksasa teknologi asal China, Alibaba dan ByteDance, hampir bersamaan meluncurkan model AI pembuat gambar terbaru. Langkah ini dipandang sebagai upaya serius untuk menantang posisi Nano Banana Pro milik Google yang selama ini menjadi salah satu standar industri dalam teknologi image generation.
Jika dalam beberapa tahun terakhir persaingan AI lebih banyak terjadi di ranah model bahasa besar, kini fokus beralih ke kemampuan sistem dalam menghasilkan visual resolusi tinggi dari perintah teks yang kompleks. Perubahan ini menunjukkan bahwa AI visual menjadi arena baru dalam perebutan dominasi teknologi global.
Qwen-Image-2.0, Senjata Baru Alibaba
Alibaba memperkenalkan Qwen-Image-2.0 sebagai bagian dari keluarga model Qwen yang dikembangkan melalui Alibaba Cloud. Model ini dirancang untuk mengubah instruksi teks menjadi gambar dengan kualitas detail tinggi dan komposisi yang stabil.
Qwen-Image-2.0 disebut mampu memahami prompt panjang dengan banyak elemen visual dalam satu adegan. Model ini juga mendukung fitur pengeditan berbasis AI. Pengguna dapat mengubah detail tertentu tanpa harus membuat ulang gambar dari awal. Fitur tersebut dinilai relevan bagi industri kreatif dan pemasaran digital yang membutuhkan fleksibilitas tinggi.
Secara strategis, Alibaba memosisikan model ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital mereka. Integrasi dengan layanan e commerce dan platform berbasis komputasi awan menjadi potensi berikutnya. Dengan pendekatan ini, AI pembuat gambar tidak hanya menjadi alat kreatif, tetapi juga mendukung aktivitas bisnis berbasis konten visual.
Namun hingga saat ini, belum tersedia laporan benchmark resmi dalam format metrik standar seperti FID atau CLIP score. Informasi performa yang beredar masih banyak bersumber dari demonstrasi publik dan pengujian komunitas.
Seedream 5.0, Andalkan Pemahaman Konteks
Di sisi lain, ByteDance meluncurkan Seedream 5.0 sebagai generasi terbaru model pembuat gambar mereka. Perusahaan yang juga dikenal sebagai induk TikTok ini menekankan peningkatan pada kemampuan reasoning atau pemahaman konteks instruksi yang kompleks.
Seedream 5.0 mendukung keluaran gambar hingga resolusi 2K dan 4K melalui peningkatan berbasis AI. Model ini diklaim memiliki kontrol lebih presisi terhadap tekstur, warna, dan komposisi visual. Kemampuan memahami instruksi bertingkat menjadi salah satu fitur utama yang disorot.
Model tersebut mulai diuji coba melalui platform milik ByteDance seperti CapCut. Dengan basis pengguna global yang besar, integrasi ini memungkinkan teknologi langsung digunakan dalam produksi konten digital sehari hari.
Sejumlah pengujian independen menyebut Seedream 5.0 fleksibel dalam menangani prompt panjang dan mampu mentransfer gaya visual dari referensi tertentu ke gambar baru. Beberapa evaluasi juga mencatat peningkatan detail visual melalui teknik pengayaan berbasis AI. Namun laporan teknis komprehensif belum dipublikasikan secara terbuka.
Nano Banana Pro Masih Bertahan di Puncak
Nano Banana Pro dari Google tetap menjadi salah satu model yang dijadikan pembanding utama. Model ini dikenal mampu menghasilkan gambar resolusi tinggi hingga 4K dengan konsistensi detail visual yang stabil.
Dalam pengujian berbasis prompt kompleks, Nano Banana Pro dinilai unggul dalam menjaga keseimbangan komposisi dan kestabilan elemen visual ketika gambar melibatkan banyak objek. Kecepatan generasi gambar juga disebut relatif lebih cepat, sehingga mendukung kebutuhan produksi yang menuntut efisiensi waktu.
Meski demikian, sejumlah pengujian komunitas menunjukkan bahwa Seedream 5.0 mulai mendekati performa model Google dalam aspek pemahaman konteks dan fleksibilitas instruksi. Perbandingan yang beredar saat ini masih bersifat terbatas karena belum ada laporan benchmark lintas platform dengan parameter standar yang sama.
Arena AI Global Makin Terbuka
Peluncuran Qwen-Image-2.0 dan Seedream 5.0 menandai langkah agresif China dalam sektor AI visual. Persaingan tidak lagi didominasi satu wilayah. Lebih banyak pemain kini menawarkan teknologi dengan kemampuan resolusi tinggi dan pemahaman konteks yang semakin kuat.
Absennya data benchmark resmi membuat evaluasi menyeluruh masih menunggu transparansi teknis lebih lanjut. Namun satu hal terlihat jelas, kompetisi AI pembuat gambar semakin ketat.
Bagi industri kreatif dan pelaku bisnis digital, situasi ini menghadirkan lebih banyak pilihan teknologi. Bagi perusahaan teknologi global, inovasi menjadi faktor yang tidak dapat ditunda. Dalam lanskap yang terus bergerak, kemampuan AI dalam memahami konteks dan menghasilkan visual berkualitas tinggi akan menjadi penentu dalam persaingan berikutnya.
